Ada Apa Dengan Rupiah ?

"Ada Apa Dengan Rupiah?"

Oleh

Rai Amertha, Dkk


Penyebab melemahnya Rupiah dan mata uang lainnya

Beberapa hari kebelakang banyak sekali pemberitaan mengenai Rupiah, kali ini pemberitaan tentang melemahnya nilai tukar Rupiah (Rp) terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan mayoritas kurs mata uang terpukul dalam kondisi saat ini. Rupiah mengalami pukulan berat belakangan lantaran pemerintah baru mengumumkan temuan kasus positif corona. Ditambah lagi, Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) baru menetapkan situasi pandemi untuk penyakit terkait virus ini. Hal ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi dampaknya ke ekonomi domestik maupun global. Dari sisi domestik, ekspor nonmigas ke Tiongkok potensial terganggu seiring melambatnya aktivitas ekonomi di negara tersebut. Kegiatan produksi di dalam negeri juga mengalami risiko gangguan seiring terkendalanya bahan baku dari Negeri Tirai Bambu. Di samping itu, ada masalah klasik yang membuat Indonesia mengalami tekanan kuat yaitu besarnya kepemilikan asing di pasar saham dan SBN. Setelah kepemilikan asing di SBN turun Rp 50 triliun sebulan ini saja, porsi kepemilikan asing tinggi yaitu 35,9% terhadap total SBN. “Sehingga movement dari investor asing kita lebih signifikan,” ujarnya.

IMG_256

Kondisi Rupiah saat ini dan prediksi 2 minggu kedepan

 Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, kembali menembus level Rp 16.000/US$. Pada Senin (23/3/2020), US$ 1 dibanderol Rp 16.550/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 4,09% dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Kondisi ini dikatakan sempat terjadi pada saat krisis ekonomi tahun 2008-2009. Selain itu, Bank Sentral AS alias The Fed juga melakukan quantitative easing, yakni salah satu kebijakan moneter guna meningkatkan jumlah uang beredar. Kebijakan ini ikut mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap ekonomi global.

Wacana lockdown terkait antisipasi Virus Corona dan pembatasan akses juga berdampak pada memburuknya perekonomian indonesia. Kondisi surplus perdagangan dinilai semu. Impor bahan baku per Februari turun cukup tajam, dibandingkan bulan Januari. “Biasanya 3-5 bulan setelah impor bahan baku turun, produksi manufaktur ikut turun. Investor asing secara persisten lakukan aksi jual di bursa saham. Dalam sepekan terakhir nett sell di bursa menembus Rp780 miliar,” jelas dia.

Menurut dia, Indeks Dolar sepekan menguat 1.72 persen menjadi 98. Hal ini menunjukkan Dolar dianggap sebagai safe haven ketika kinerja ekonomi global dibayangi resesi. Dengan kondisi yang ada, dia memprediksi rupiah bisa melemah lebih besar lagi ke depan. “Perkiraan rupiah dua pekan ke depan Rp 15.500- Rp 15.700,” ujarnya. Saat ditanya, sampai level berapakah rupiah akan melemah, Bhima mengaku belum bisa memastikan karena kondisi terus memburuk.

DAFTAR PUSTAKA

 

Pransuamitra, P. A. (2020, Maret 23). Penutupan Pasar: Rupiah Melemah ke Rp 16.550/US$. Retrieved from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/market/20200323154438-17-147009/penutupan-pasar-rupiah-melemah-ke-rp-16550-us-

 

Santia, T. (2020, Maret 18). Ini Penyebab Rupiah Terus Melemah. Retrieved from Liputan 6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/4204729/ini-penyebab-rupiah-terus-melemah